Wana Wisata Taman Pendidikan Rusa (WWTPR) didaerah Cariu-Bogor. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kami di Cibubur, tepatnya di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor.

Setelah menempuh jarak sekitar 45 km bermobil dari Cibubur, melalui Jalan Raya Alternatif Cibubur-Cileungsi ke arah Jonggol menuju Cianjur, sampailah kami di WWTPR. Perjalanan cukup lancar, meskipun ada beberapa ruas jalan yang bergelombang cukup parah. Jalan yang berkelok-kelok dengan hamparan sawah di kanan-kiri jalan dan bukit-bukit di kejauhan menambah elok pemandangan.

Sayang, minimnya papan penunjuk arah membuat kami sedikit kesulitan menemukan lokasi ini, untungnya masyarakat sekitar sudah sangat mengenal WWTPR, berbekal petunjuk dari mereka akhirnya kami berhasil menemukan papan kecil bertuliskan “Penangkaran Rusa” di sebelah kiri jalan.

Melewati jalan berbatu sekitar 100m ke dalam sampailah kami di loket penjagaan, untuk masuk ke kawasan penangkaran rusa kami cukup membayar Rp.4000/orang ditambah biaya parkir Rp.2500/mobil. Dari loket penjagaan kami masih harus melewati jembatan gantung sepanjang 50 m menyeberangi sungai Cibeet yang cukup lebar. Suatu pengalaman tersendiri bagi kami melewati jembatan yang selalu bergoyang-goyang ini karena semakin cepat kami berjalan maka semakin kencang goyangannya. Wah, seandainya saat itu arus sungai Cibeet mengalir deras pasti suasananya tambah seru saja.

Perjalanan menuju penangkaran dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 200m melewati hutan kecil dan lokasi perkemahan. Di area penangkaran pandangan kami tertuju pada anjungan yang terbuat dari bambu, membentuk jembatan panjang yang berakhir pada sebuah gazebo. Awalnya kami cukup heran karena tidak melihat seekor rusapun disana, tapi setelah diperhatikan dengan seksama ternyata rusa-rusa tersebut sedang beristirahat di bawah rerindangan pohon di kejauhan. Ya, hujan yang sudah 6 bulan tidak turun membuat hutan sedikit gersang sehingga agak sulit membedakan warna kulit rusa dengan lahan kering di sekitarnya.

Beberapa saat kemudian segerombolan rusa mulai mendekat ke anjungan, rupanya rusa-rusa disana sudah terbiasa dengan manusia. Buktinya saat kami mencoba turun dari anjungan dan bergabung dengan mereka, rusa-rusa tersebut tidak lari menjauh, malah beberapa dari mereka mengendus-endus tas yang saya bawa, oh rupanya mereka mencari makanan. Dari penuturan penjaga penangkaran, meskipun ada larangan untuk tidak memberi makan kepada rusa kecuali makanan yang sudah disediakan, banyak dari pengunjung WWTPR yang membawa ‘oleh-oleh’ untuk rusa-rusa disana. “Sejauh oleh-oleh tersebut bisa dikonsumsi oleh rusa, masih bolehlah diberikan”, demikian penjelasannya.

Makanan rusa sendiri terdiri dari rumput, dedak, ubi jalar dan buah-buahan seperti pisang, mangga dan wortel. Ah, kebetulan kami membawa beberapa kantong wortel segar dari rumah. Benar saja, begitu wortel-wortel itu dikeluarkan serentak rusa-rusa yang lainpun berdatangan mendekati kami, sedikit ngeri juga waktu beberapa rusa jantan dengan tanduk yang besar merengsek minta jatah wortel, takut diseruduk, hehehe. Untungnya mereka memang cukup jinak, bahkan anak saya Arya (14 bulan) cukup nyaman berada di tengah-tengah mereka.

Saat ini ada sekitar 60 ekor rusa yang ada di WWTPR, terdiri dari Rusa Jawa (Cervus Timorenis) , Rusa Bawean (Axis Kuhlii) dan beberapa Rusa Totol (Axis Axis). Populasi tersebut cukup ideal untuk lokasi penangkaran seluas 5 Ha. Jika ternyata populasinya berlebih maka rusa-rusa tersebut ditawarkan untuk dibeli. Bagi yang tertarik membeli bisa menghubungi Perum Perhutani KPH Bogor. Harganya bervariasi tergantung dari jenis, umur dan berat rusa. Yang termahal adalah Rusa Totol, konon harganya bisa mencapai Rp.10jt/ekor. Hmm tidak heran kalau saya sempat menjumpai beberapa orang yang memiliki rusa totol sebagai peliharaan mereka, bisa jadi mereka membelinya disini.

Puas bermain-main dengan rusa, kamipun menuju saung-saung yang ada di sekitar lokasi penangkaran untuk makan siang. Rasanya menyenangkan sekali menyantap bekal yang dibawa dari rumah ditemani semilir angin sambil memandang sawah yang menghijau di seberang sungai. Buat yang tidak sempat membawa bekal tidak perlu khawatir, ada beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman.

Selain penangkaran rusa, WWTPR juga menyediakan fasilitas kegiatan alam lainnya seperti hiking, outbound (flying fox) dan berkemah. Untuk berkemah disana hanya perlu membayar Rp.7000/orang, camping groundnya cukup luas, dikelilingi pohon-pohon pinus dan berada di sisi sungai Cibeet. Tersedia toilet yang cukup bersih untuk keperluan MCK. Ah, jadi ingin berkemah disini selepas musim hujan nanti.

Sumber: Diah H Soehadi

Comments
  1. wawi says:

    Beberapa minggu sebelumnya kami sekeluarga sempata berkunjung ke lokasi P rusa, kami pun sangat terkesan…kami mengharapkan ada pihak..pemerintah dan atau investor yang mau mengembangkan wilayah sekitar p rusa…pasti lebih menyenangkan…terima kasih atas blog ini.wawi.

    • FORMASI says:

      terima kasih atas Komentarnya. Semoga lewat blog ini, ada investor yang mau berinvestasi guna membangun objek wisata tersebut. Salam hormat dari kami. Tks

  2. termikasih atas kunjungan anda ke kawasan cariu bgor thea,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s