Sabtu pagi hari tadi,  saya ditemani suami tercinta meluncur ke daerah Tapos dan Cikretek Pancawangi Ciawi. Tujuannya untuk survey hotel/lokasi Team Building (Outbond) Project AMALIA Consulting, konsultan psikologi yang saya dirikan bersama teman-teman psikologi UI.  Meski kegiatan untuk 40 orang karyawan dari satu perusahaan forwarding terkemuka di Jakarta  itu  baru akan dilaksanakan bulan Februari 2010, saya tidak ingin klien kami kecewa karena tempat/lokasi yang bagus/diinginkan telah disewa oleh pihak lain. Oleh sebab itu survey yang kami lakukan adalah yang ketiga kalinya dalam seminggu ini.   Alhamdulillah akhirnya kami berhasil mendapatkan tempat yang sesuai dengan bugdet dan karakter perusahaan klien kami.

Perasaan lega ini kami rayakan berdua dengan berjalan-jalan dulu ke Bogor untuk wisata kuliner sebelum balik ke Jakarta karena jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Waktu luang yang menyenangkan ini kami pergunakan untuk bergerak ke arah Sukasari Bogor yang utamanya untuk membeli asinan khas Bogor yang terkenal dan favorit kami berdua sejak anak-anak masih balita,  yaitu Asinan Gedung Dalam di Jl. Siliwangi dan jajanan lainnya yang dijual di sekitar itu. Sekaligus pula kami mencari resto untuk makan siang mengingat perut kami sudah sangat keroncongan apalagi kondisi cuaca yang agak dingin setelah hujan mengguyur. Entah sudah beberapa tahun kami tidak pernah lagi mampir ke kota Bogor umumnya dan asinan Gedung Dalam ini khususnya, terlebih sejak Abang Andi anak pertama kami kuliah di Bandung tahun 2008.  Seperti lagu…maka Bogor (hampir) tinggal kenangan..hehe.

Kami memerlukan waktu sekitar 1/2 jam sebelum sampai di tujuan. Bayangan di benak kami pastilah kami akan mengantri cukup lama karena waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, yang biasanya saat-saat ini  sedang ramai-ramainya pembeli yang berdatangan dari berbagai tempat dalam dan luar kota. Eeh…perkiraan kami salah. Suasana ternyata sepi-sepi saja alias tidak mengantri sama sekali. Pembelinya hanya datang satu dua dan itupun tidak lagi memborong dalam jumlah yang banyak seperti pemandangan yang sering saya lihat pada waktu saya sering mampir dulu. Dan harganyapun sekarang @ Rp 14 ribu untuk sebungkus asinan yang melulu berisi buah. Dan saya juga harus merogoh kocek Rp 6 ribu lagi untuk membeli sebungkus kerupuk kesukaan saya yang akan dimasukkan ke dalam asinan buah tersebut.  Karena yang suka hanya saya dan suami, maka sayapun hanya membeli 2 bungkus  asinan ditambah 1 bungkus kerupuk ukuran kecil sehingga totalnya semuanya Rp 34 ribu.  Terasa agak kemahalan menurut saya untuk makanan yang hanya berfungsi sebagai desert/camilan.  Mengapa demikian,  karena dengan jumlah uang yang sama bisa digunakan untuk membeli 2 paket nasi bungkus ayam lengkap dengan sayuran resto padang beken Sederhana yang lezat dan mengenyangkan perut…hehe…(maklum saya masih  turunan asli Padang!).

Karena rasa penasaran saya melihat pembeli yang tidak lagi berjubel, maka saya menyempatkan diri untuk menjadi reporter dadakan dengan bertanya ini itu kepada pedagang makanan, minuman dan buah yang ada di sekitar dan sekaligus juga berbelanja dengan  suami. Mereka semua mengamini jika situasi perdagangan yang ada tidak lagi seramai dulu.  Masa keemasan Asinan Bogor  Gedung Dalam yang mereka juga rasakan dulu kini telah berlalu seiring dengan menyurutnya pembeli  yang datang. Ramainya pembeli asinan Gedung Dalam menjadi indikasi ramainya pembeli mereka pula, karena biasanya pembeli itu juga mampir membeli berbagai makanan, minuman dan buah yang ada di sekitar tempat penjualan asinan tersebut. Seperti juga yang selalu saya lakukan bersama suami, saat ini dan masa dulu itu. Jika  saya sedang antri beli asinan, maka suami akan memanfaatkan waktu yang ada dengan berbelanja pisang, alpukat, jagung, gemblong, tahu, lumpia atau apa saja yang saat itu menarik perhatiannya. Saat saya sudah mendapatkan bungkusan asinan, maka tangan suami sudah penuh pula dengan beraneka rupa jinjingan. Nostalgia yang  seru dan asyik.

Saya bersama suami mencoba menganalisa penyebab kondisi ini. Apa karena lesunya perekonomian sehingga harga asinan yang segitu menjadi terasa mahal,  kondisi lalu lintas  dalam kota Bogor yang kian semrawut tanpa ada penataan kembali, daya tarik kota Bandung yang lebih tinggi dibandingkan Bogor akibat adanya tol Cipularang atau mungkin disebabkan konsumen menjadi terbatas di kalangan dewasa atau lanjut usia karena selera generasi muda yang setingkat anak-anak saya lebih mengenal/menyukai yoghurt dibandingkan dengan asinan. Atau dari pantauan pandangan mata situasi dan kondisi terkini, saya dan suami melihat bahwa tempat/lokasinya lingkungan dan sekitarnya yang terlihat kuno, kotor, kurang terawat dan becek. Pedagang bercampur baur tidak teratur dan sampah yang tercecer di berbagai tempat sehingga menimbulkan bau yang kurang sedap. Kesimpulannya, sangat tidak nyaman.

Tapi apapun itu, sebenarnya sangatlah disayang jika demikian yang terjadi. Harus dilakukan pembenahan di kota Bogor yang bukan hanya menyangkut bisnis asinan tersebut, tetapi juga bisnis pedagang kecil yang ada disekitarnya. Bukan hanya satu dua tapi ada puluhan bahkan ratusan pedagang yang tentunya menghidupi puluhan ribu anggota keluarga mereka yang menggantung nasibnya dari ramainya pembeli yang datang ke tempat itu dan tempat-tempat wisata kuliner lainnya di area dalam kota Bogor. Kebersihan, keteraturan, ketertiban dan keindahan kunci dari semua itu.  Nah, kebanyakan tempat wisata kuliner tradisional kurang mengindahkan hal itu. Perlu dilakukan penyuluhan dari instansi terkait untuk bisa melakukan berbagai perbaikan yang menyeluruh sehingga bisa bangkit kembali dan makin ramai dikunjungi orang. Semoga!

Sumber: Wita Rifol dalam http://wisata.kompasiana.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s