Bogor, formasi.wordpress.com. Berangkat dari asumsi orang Barat lebih menyukai musik murni dan musik tradisional, Nano S bereksperimen dan menjajagi karawitan Sunda untuk menghadapi era globalisasi. Ia mengakui idenya terilhami oleh Mang Koko dalam kelompoknya Kanca Indihiang yang memasukkan bahasa Indonesia dan bahkan bahasa Belanda dalam lagu-lagunya.

Itulah sebabnya, Nanjo kemudian dikenal sebagai seniman yang tak hanya “membesarkan” lagu-lagu sunda di negeri sendiri, misalnya lewat lagu Kalangkang, tapi kiprahnya juga dikenal di negara manca.

LAHIR di Tarogong, Garut, Jawa Barat, 4 April 1944, sejak umur lima tahun Nano S sudah dibawa mengadu nasib ke Bandung. Kedua orang-tuanya, almarhum Iyan S dan almarhumah Ny Nonoh termasuk keluarga pecinta seni, walaupun sehari-harinya sebagai wiraswastawan. Di lingkungan keluarga, sejak kecil Nano dianggap memiliki kemampuan menyanyi. Ketika masih di SD, ia sering diminta memperlihatkan kemahirannya dalam pertemuan-pertemuan keluarga.

Kelebihan ini yang mendorong kakaknya menganjurkan agar sang adik memasuki konservatori. Begitu tamat, ia mengikuti jejak guru-gurunya dengan mengajar kesenian dan Bahasa Daerah di SMP 1, Bandung (1965-1970). Selama seperempat abad, 1970-1995, ia mengajar di Sekolah
Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dan pernah menjabat Ketua Jurusan Karawitan dan Wakil Kepala SMKI. Dalam kurun waktu inilah Nano S nampak lebih produktif sebagai penulis lagu-lagu Sunda. Satu di antara lagunya adalah Kalangkang (Bayang-bayang), yang membuktikan ketangguhannya dalam deretan kreator karawitan Sunda bahkan karawitan Indonesia.

Lewat suara Nining Maeda yang sekaligus mengorbitkan nama penyanyi itu, Kalangkang dalam versi pop Sunda meraih penghargaan BASF Award (1989), dan setahun kemudian meraih penghargaan HDX Award yang terjual dua juta fotokopi. Satu hal yang belum terjadi sebelumnya. Tiga tahun
kemudian, penghargaan serupa diraih untuk lagunya Cinta Ketok Magic melalui suara penyanyi dangdut Evie Tamala.
* * *

NANO S mulai mencipta lagu sejak tahun 1963 dengan kumpulan hampir seratus album. Tetapi perjalanannya dalam karawitan Sunda sesungguhnya lebih hebat lagi. Sukses dalam pagelaran Karawitan Gending Sangkuriang di Festival Komponis Muda yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1979 telah mengantarkan dirinya dalam forum nasional. Bahkan tahun 1980, karya tersebut disertakan dalam Festival Musik Internasional di Taiwan.

Di luar itu masih banyak lagi karya-karya kolosalnya sehingga akan merupakan deretan panjang untuk disebutkan satu per satu. Pantas jika hampir setiap tahun ia diminta memimpin missi kesenian ke luar negeri untuk mengenalkan kesenian Sunda. Namun dengan nada merendah ia
menyatakan, bahwa kunjungan missi kesenian ke luar negeri bukanlah ukuran sukses kelompok kesenian tersebut.

Di antara sedikit deretan kreator karawitan di Indonesia, Nano S termasuk beruntung memperoleh kesempatan memperdalam koto. Selama setahun, ia mempelajari sejenis musik Jepang itu di Tokyo National University of Fine Arts and Music atas biaya Japan Foundation. Tujuannya adalah membandingkan tangga nada Sunda dan tangga nada Jepang dalam suling, kecapi, dan koto. Seusai pendidikan, ia tak tanggung-tanggung dalam menyelenggarakan pertunjukan. Keberanian dan kreativitasnya dalam memainkan ketiga alat musik tersebut secara sekaligus selama tiga malam berturut-turut, telah memikat dan mengundang rasa kagum publik penonton Jepang.

Kreativitas ini pula yang melahirkan Kalangkang dan kemudian meledak di pasaran. Lagu itu pada awalnya disiapkan untuk degung, tetapi jenis kesenian ini terbatas hanya di sekitar Priangan. Versi berikutnya untuk pop Sunda dengan gaya langgam kaleran yang biasa dibawakan pesinden (penyanyi) Yoyoh Supriatin, pengaruhnya ternyata di luar dugaannya.

Pop bisa diperlakukan secara komersial dan penggemarnya lebih kuat, sehingga bisa dijadikan panggung penerobosan situasi jenuh. Dari versi pop ini ia mengakui banyak memperoleh keuntungan materi yang kemudian digunakan untuk mengembangkan kelompok keseniannya. Katanya, “Saya secara sadar masuk ke sana”.

Ia mengakui, pop Sunda sekarang ini dinilai monoton dan kurang pembaharuan sehingga masyarakat jenuh. Karena lagu-lagunya diciptakan oleh orang musik maka pop Sunda sekarang ini menjadi musik pop yang diiringi lagu berbahasa Sunda. Itu berbeda dengan Kalangkang di mana warna karawitan dan warna daerahnya tetap muncul dan diiringi musik yang bernuansa pentatonis. Salah satu sebabnya, mungkin karena yang membuatnya orang karawitan.

Selamat jalan pejuang kesenian… Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh sang pencipta. Amin.

Sumber: Dikutip dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s