Bogor, formasibogor.wordpress.com. Diasupkeun heuras, dikaluarkeun leuleus, bijil cai ngeungeunahna, naon? Jawab, dahar tiwu!

Salah satu kekayaan batin budaya Sunda yang sampai sekarang masih hidup adalah ”tatarucingan”. ”Tatarucingan” adalah semacam teka-teki Sunda (”Sundanese riddle”) yang dikemas dalam bentuk pertanyaan. Jawabannya tak terduga dengan kesimpulan terbalik yang jauh dari logika semestinya, sebagaimana ungkapan di atas.

Tatarucingan ini tentu merupakan fenomena universal setiap budaya, sebanding lurus dengan sifat manusia sebagai makhluk yang suka bermain, termasuk bermain kata-kata dan mempermainkan logika. Hal itu seperti kesimpulan Huizinga, manusia adalah makhluk bermain (homo ludens). Manusia juga disebut sebagai animal symbolicum, hewan bersimbol yang suka mengemas persoalannya dengan simbol, termasuk ketika berbahasa. Hal itu seperti ditulis dalam karya besar Ernest Cassirer, The Philosophy of Symbolic Forms.

Karena tatarucingan dapat menjadi pintu masuk untuk mengetahui budaya yang hidup di masyarakat, banyak antropolog melakukan kajian etnografis seputar tatarucingan, semisal Jan Harold Brunyand, Robert A Georges, Alan Dundes, dan Archer Taylor. Bahkan, ketika ada pergerakan filsafat dari logika ke bahasa, sesungguhnya filsafat itu tengah menyongsong ”era tatarucingan”. Hal itu terbukti dengan hidupnya kembali kajian metafora, semantik, dan semiotik yang notabene merupakan hal pokok dalam batang tubuh tatarucingan.

Media pelepasan

Dengan tatarucingan, sesungguhnya seseorang tengah melakukan pelepasan dari segala kepenatan dan kompleksitas hidup untuk kemudian kembali menjadi manusia wajar yang satu sama lain bisa tertawa penuh keakraban. Dengan tatarucingan, kita raih kembali kebebasan (Sartre), cinta kasih (Levinas), dan kebersamaan (Haidegger) dalam lingkungan sosial, yang ternyata terwujudnya negara kemakmuran semakin jauh tanah ka langit. Jauh panggang dari api.

Tatarucingan merupakan kearifan perenial yang dapat menjadi media merajut silaturahim di satu sisi. Di sisi lain tatarucingan mengenalkan kekayaan budaya setempat sekaligus memberikan pembelajaran bahasa (Sunda) ketika disampaikan kepada anak-anak. Bukankah tidak ada pengajaran bahasa yang paling efektif kecuali ketika dikemas dalam bentuk permainan?

Pelajaran bahasa akan mudah justru tatkala disampaikan dengan penuh keriangan, yang berangkat dari budaya setempat menggunakan bahasa ibu, agar pesan tatarucingan dapat disampaikan dengan sangat emosional.

Dalam konteks kesundaan, kaitannya dengan pelestarian bahasa, tatarucingan ini menjadi penting justru ketika bahasa Sunda kerap kali disebut-sebut sedang berada di tapal batas sakaratulmaut, sebagaimana disampaikan para ahli. Di kota-kota besar sudah semakin langka anak berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda.

Fungsi bahasa Sunda semakin hari semakin menyempit. Dengan tatarucingan, minimal anak-anak kita diingatkan akan akar kultural sekaligus kosmologi kekayaan budaya yang melingkupinya. Ketika tatarucingan disampaikan dengan bahasa Sunda, sedikit banyak kosakata dan cara berbahasa itu tengah disampaikan.

Mengasah nalar

Tatarucingan sebagai permainan bahasa tentu bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu senggang. Namun, di dalamnya juga termaktub siasat mengasah nalar dan belajar memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving), seperti tampak dalam keragaman pola tatarucingan yang dicatat HD Bastaman dalam Sundalana (2005).

Pertama, pola pikir induktif empiris, mengambil kesimpulan umum berdasarkan beberapa data konkret. Hees dina cai, cicing dina cai, rek nginum neangan cai? Lentah.

Kedua, pola pikir simbolis, mengambil kesimpulan atas dasar kiasan. Bumi ngait jagat nyangsang? Kenteng.

Ketiga, pola pikir asosiatif, menghubungkan suatu hal dengan hal lain yang semula tidak ada hubungannya. Tangkal opat, daun tujuh, kembang dua, kembangna mangjuta-juta? Bentang.

Keempat, pola pikir spasial, membayangkan lokasi atau arah sesuatu dalam dimensi ruang. Di hareup aya, di tukang aya. Di luhur aya dihandap aya, di tengah oge aya? Naon, Cing? Aya.

Kelima, pola pikir kreatif, mendapatkan solusi baru yang tidak biasa dilakukan orang. Ki Dadap boga hayam bikang, sanajan geus disadiakeun sayang, unggal-unggal ngendog tara di sayangna nepi ka tara kapanggih. Kumaha akalna sangkan endogna kapanggih kunu bogana? Bujur hayamna make kentong.

Keenam, pola pikir diferensial, kemampuan membedakan beberapa hal yang punya karakteristik berlainan. Naon bedana jam 12 beurang jeung jam 12 peuting? Jam 12 beurang disadana tarik neng-neng-neng 12 kali, jam 12 peuting semo ngaharewos, ”Neng…, Neng…, Neng!”

Jelas bahwa tatarucingan dapat merangsang daya imajinasi dengan digunakannya asosiasi, sugesti, dan relasi. Tatarucingan dapat memberikan pencerahan. Bukankah imajinasi jauh lebih penting daripada sekadar logika?

Tampak terang menjawab dan memikirkan jawaban dari sebuah tatarucingan jauh lebih bermakna daripada ngabandungan (memerhatikan) tingkah polah politisi kita yang seolah bangga kalau langkah-langkahnya penuh teka-teki dengan strategi yang sulit dijawab lawan politiknya. Mereka juga merasa gembira kalau praktiknya berujung dengan kesimpulan tak terduga, padahal sesungguhnya jawaban yang pasti hanya satu: kepentingan diri serta kelompoknya. Jawabannya tunggal: manco pada hasrat dangkal untuk memfasilitasi nafsunya yang rakus.

Daripada menonton aksi akrobatik para politisi yang banyak dipoles pencitraan kampungan, lebih baik menjawab tatarucingan ini. Di pengberokan seuri, di luar ceurik, saha? Kalau Anda menjawab Gayus atau Ayin, jawabannya salah. Apalagi kalau menjawab Menhukam, bisa dikategorikan pencemaran nama baik.

Sumber: http://cetak.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s