Oleh: Anugerah Perkasa

JAKARTA: Survei Setara Institute mengungkapkan warga Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek) tidak toleran dan diskriminatif terhadap penganut agama lain di luar enam agama yang diakui negara. Salah satunya adalah terhadap Ahmadiyah. 

Peneliti Setara Institute Ismail Hasani mengatakan sebanyak 60% responden menyatakan tidak dapat menerima jika ada agama atau keyakinan lain selain yang ‘resmi’ diakui oleh negara. Agama-agama resmi yang dimaksud adalah Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

“Pandangan yang demikian sejalan dengan berbagai data pelanggaran kebebasan beragama yang menunjukkan intoleransi dan diskriminasi oleh warga negara yang menanganggap sesat setiap agama selain dari yang ‘diakui’,” ujar Ismail dalam peluncuran survei tersebut di Jakarta hari ini.

Sementara itu, hasil lainnya adalah sebesar 29% responden dapat menerima agama di luar enam agama formal, dan 9,2% responden tak menjawab/tak tahu. Ismail menuturkan potret mencemaskan terkait dengan kebebasan beragama justru menunjukkan intoleransi yang semakin menguat.

Temuan lainnya adalah sebanyak 40,3% responden mengatakan bahwa Ahmadiyah adalah sesat, 28,7% responden menyatakan jemaat Ahmadiyah memiliki hak untuk diyakini sedangkan 31% tidak menjawab/tidak tahu. Selain itu, survei tersebut mengungkapkan 45,4% responden berpandangan sebaiknya Ahmadiyah dibubarkan oleh pemerintah.

“Paralel dengan pelanggaran kebebasan beragama, organisasi-organisasi Islam radikal di tengah masyarakat mempromosikan pandangan dan praktik intoleransi,” ujar Ismail. “Material isu yang dikapitalisasi adalah aliran sesat, anti maksiat dan anti pemurtadan.”

Survei Setara dilakukan terhadap 1.200 responden yang dipilih secara acak sistematik dengan margin of error adalah 2,2%. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan bantuan kuisoner pada 20 Oktober 2010-10 November 2010.

Sekretaris Eksekutif Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Benny Susetyo mengatakan praktik intoleran juga sangat dipengaruhi oleh tokoh agama yang memiliki pemahaman eksklusif.

“Tokoh agama justru menjadi provokator, karena dia sendiri memiliki pemahaman agama yang tidak inklusif,” ujar dia menanggapi hasil survei Setara Institute. “Ini juga menjadi peringatan bagi pemerintah.”

Dia menuturkan meningkatnya praktik intoleransi umat beragama juga menjadi indikator ketidakberhasilan pemerintah menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi. Benny menyatakan tidak mengherankan bahwa tindakan macam ini terus terjadi.(ln)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s